Bingung ? Ke Jalan2.com Aja !
Results 1 to 4 of 4

Filsafat china

Sumber : budaya tionghoa Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni, toleransi

  1. #1
    usnisha's Avatar
    usnisha is offline Human Being
    Join Date
    Mar 2006
    Posts
    1,553
    Thanks
    166
    Thanked 140 Times in 98 Posts
    Downloads
    1
    Uploads
    15

    Default Filsafat china

    Bosen ?? Ke Jalan2.com Aja Skrg !
    Sumber : budaya tionghoa

    Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni,
    toleransi dan perikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan,
    harmoni, suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan
    sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi
    kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali
    berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang
    memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama.
    Kemudian, perikemanusiaan. Pemikiran Cina lebih antroposentris
    daripada filsafat India dan filsafat Barat. Manusia-lah yang selalu
    merupakan pusat filsafat Cina.
    Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewadewa
    semua dikuasai oleh suatu nasib buta ("Moira"), dan ketika
    kebudayaan India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan
    dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah
    diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasibnya dan
    tujuannya. Filsafat Cina dibagi atas empat periode besar:

    1. Jaman Klasik (600-200 S.M.)
    Menurut tradisi, periode ini ditandai oleh seratus sekolah filsafat:
    seratus aliran yang semuanya mempunyai ajaran yang berbeda. Namun,
    kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan secara umum,
    misalnya "tao" ("jalan"), "te" ("keutamaan" atau "seni hidup"), "yen"
    ("perikemanusiaan"), "i" ("keadilan"), "t'ien" ("surga") dan "yinyang"
    (harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan
    prinsip pasif-perempuan).
    Sekolah-sekolah terpenting dalam jaman
    klasik adalah:

    Konfusianisme
    Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, "guru dari suku Kung")
    hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao ("jalan" sebagai
    prinsip utama dari kenyataan) adalah "jalan manusia". Artinya:
    manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau
    ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan.
    Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan ("yen"), yang
    merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama
    walaupun tindakan mereka berbeda.

    Taoisme
    Taoisme diajarkan oleh Lao Tse ("guru tua") yang hidup sekitar 550
    S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan "jalan
    manusia" melainkan "jalan alam"-lah yang merupakan Tao. Tao menurut
    Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang
    bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih
    metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak
    metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa
    tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India
    (ajaran "neti", "na-itu": "tidak begitu") dan dalam filsafat Barat
    (di mana kesadaran ini disebut "docta ignorantia", "ketidaktahuan
    yang berilmu").

    Yin-Yang
    "Yin" dan "Yang" adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin
    itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan
    perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. Yang itu
    prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki,
    simbol untuk hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam
    kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu
    dan derajat Yang tertentu.

    Moisme
    Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse, antara 500-400 S.M. Mo Tse
    mengajarkan bahwa yang terpenting adalah "cinta universal",
    kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk
    memusnahkan kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung
    terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna
    dianggap jahat. Bahwa perang itu jahat serta menghambat kemakmuran
    umum tidak sukar untuk dimengerti. Tetapi Mo Tse juga melawan musik
    sebagai sesuatu yang tidak berguna, maka jelek.

    Ming Chia
    Ming Chia atau "sekolah nama-nama", menyibukkan diri dengan analisis
    istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming Chia, yang juga
    disebut "sekolah dialektik", dapat dibandingkan dengan aliran sofisme
    dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan
    kritik yang mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat,
    dan yang memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam
    Ming Chia juga terdapat khayalan tentang hal-hal
    seperti "eksistensi", "relativitas", "kausalitas", "ruang"
    dan "waktu".

    Fa Chia
    Fa Chia atau "sekolah hukum", cukup berbeda dari semua aliran klasik
    lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia,
    melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan
    bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik yang
    diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari
    suatu sistem undang-undang yang keras sekali.
    Tentang keenam sekolah klasik tersebut, kadang-kadang dikatakan bahwa
    mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Berturutturut:
    (1) kaum ilmuwan, (2) rahib-rahib, (3) okkultisme (dari ahliahli
    magi), (4) kasta ksatria, (5) para pendebat, dan (6) ahli-ahli
    politik.

    2. Jaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)
    Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat
    arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan "Nirwana" dari ajaran
    Buddha, yaitu "transendensi di seberang segala nama dan konsep", "di
    seberang adanya".

    3. Jaman Neo-Konfusianisme (1000-1900)
    Dari tahun 1000 M. Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran
    filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang
    bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini,
    kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan
    nilai-nilai tradisional di Cina, sema sekali dilalaikan, bahkan
    disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap
    sebagai sesuatu yang sama sekali asing.

    4. Jaman Modern (setelah 1900)
    Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad
    kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan
    pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran
    filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang
    lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu
    reaksi, kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak
    1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.
    Inilah sejarah perkembangan filsafat China, yang merupakan filsafat
    Timur. Yang termasuk kepada filsafat Barat misalnya filsafat Yunani,
    filsafat Helenisme, "filsafat Kristiani", filsafat Islam, filsafat
    jaman renaissance, jaman modern dan masa kini.
    May I be a protector for those who are without protectors, a guide for travelers, and a boat, a bridge, and a ship for those who wish to cross over!
    May I be a lamp for those who seek light, a bed for those who seek rest, and may I be a servant for all beings who desire a servant. (Shantideva)
    resep masakan vegetarian
    Online Dharma
    jangan di klik

  2. #2
    zhangcharming is offline Baru bergabung
    Join Date
    Mar 2009
    Posts
    2
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    kalo kalian juga suka filsafat cina mungki boleh coba ke blog saya, yang isinya ujaran konfusius, lao zi dan zhuang zi di:

    www.nagaterbang.wordpress.com

    tapi kita tidak mendiskusikan tentang agama cuma filosofi saja karena menurut saya agama itu agak kompleks dan biarlah agama menjadi hubungan pribadi kita dengan tuhan.
    thanks and i welcome u to my blog

  3. #3
    mingtek is offline Senior
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    210
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Quote Originally Posted by usnisha View Post
    Sumber : budaya tionghoa
    Konfusianisme
    Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, "guru dari suku Kung")hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao ("jalan" sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah "jalan manusia". Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan. Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan ("yen"), yang merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan mereka berbeda.

    Taoisme
    Taoisme diajarkan oleh Lao Tse ("guru tua") yang hidup sekitar 550 S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan "jalan
    manusia" melainkan "jalan alam"-lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India (ajaran "neti", "na-itu": "tidak begitu") dan dalam filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut "docta ignorantia", "ketidaktahuan yang berilmu").
    Ijinkan utk sedikit koreksi dan menambahkan.
    Nabi Khongzi hidup pada 551-479 SM.
    Tao dalam Daoism, adalah identik dengan yg Mutlak, Tuhan.
    Sedang Tao dalam Khonghucu (biasa diterjemahkan Too), sebagai jalan suci, ada dua yaitu ren Tao dan Tian Tao, dimana seseorg dikatakan menempuh jalan suci (manusia, ren Tao) ketika berusaha senantiasa membina diri, memperbaiki diri, belajar hidup benar, dalam usaha menepati hakekat kemanusiaannya, sedang ketika seseorg mampu sejalan dengan watak sejatinya (pengertian umum, hati nurani)sehingga membawa kebaikan bukan hanya pada dirinya, manusia, lingkungan sekitarnya, yang pada akhirnya membawa kebaikan / kedamaian bagi dunia, maka dikatakan dia sedang menenmpuh jalan suci KeTuhanan, yang akhirnya berhenti pada puncak Baik / Kebaikan / Tian.

    Ajaran Khonghucu banyak menyinggung etika karena dalam usaha menepati hakekat kemanusiaannya, ketika berinteraksi dengan manusia2 lain, maka perlu suatu perilaku etika yamg baik dan hal ini bukan berarti ajarannya melulu ethics saja, meski ini juga ditekankan.

  4. #4
    Parameswara Li's Avatar
    Parameswara Li is offline Tidak baru lagi
    Join Date
    Feb 2010
    Posts
    45
    Thanks
    1
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Bosen ?? Ke Jalan2.com Aja Skrg !
    Quote Originally Posted by usnisha View Post
    Sumber : budaya tionghoa

    Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni,
    toleransi dan perikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan,
    harmoni, suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan
    sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi
    kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali
    berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang
    memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama.
    Kemudian, perikemanusiaan. Pemikiran Cina lebih antroposentris
    daripada filsafat India dan filsafat Barat. Manusia-lah yang selalu
    merupakan pusat filsafat Cina.
    Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewadewa
    semua dikuasai oleh suatu nasib buta ("Moira"), dan ketika
    kebudayaan India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan
    dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah
    diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasibnya dan
    tujuannya. Filsafat Cina dibagi atas empat periode besar:

    1. Jaman Klasik (600-200 S.M.)
    Menurut tradisi, periode ini ditandai oleh seratus sekolah filsafat:
    seratus aliran yang semuanya mempunyai ajaran yang berbeda. Namun,
    kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan secara umum,
    misalnya "tao" ("jalan"), "te" ("keutamaan" atau "seni hidup"), "yen"
    ("perikemanusiaan"), "i" ("keadilan"), "t'ien" ("surga") dan "yinyang"
    (harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan
    prinsip pasif-perempuan).
    Sekolah-sekolah terpenting dalam jaman
    klasik adalah:

    Konfusianisme
    Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, "guru dari suku Kung")
    hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao ("jalan" sebagai
    prinsip utama dari kenyataan) adalah "jalan manusia". Artinya:
    manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau
    ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan.
    Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan ("yen"), yang
    merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama
    walaupun tindakan mereka berbeda.

    Taoisme
    Taoisme diajarkan oleh Lao Tse ("guru tua") yang hidup sekitar 550
    S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan "jalan
    manusia" melainkan "jalan alam"-lah yang merupakan Tao. Tao menurut
    Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang
    bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih
    metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak
    metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa
    tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India
    (ajaran "neti", "na-itu": "tidak begitu") dan dalam filsafat Barat
    (di mana kesadaran ini disebut "docta ignorantia", "ketidaktahuan
    yang berilmu").

    Yin-Yang
    "Yin" dan "Yang" adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin
    itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan
    perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. Yang itu
    prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki,
    simbol untuk hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam
    kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu
    dan derajat Yang tertentu.

    Moisme
    Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse, antara 500-400 S.M. Mo Tse
    mengajarkan bahwa yang terpenting adalah "cinta universal",
    kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk
    memusnahkan kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung
    terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna
    dianggap jahat. Bahwa perang itu jahat serta menghambat kemakmuran
    umum tidak sukar untuk dimengerti. Tetapi Mo Tse juga melawan musik
    sebagai sesuatu yang tidak berguna, maka jelek.

    Ming Chia
    Ming Chia atau "sekolah nama-nama", menyibukkan diri dengan analisis
    istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming Chia, yang juga
    disebut "sekolah dialektik", dapat dibandingkan dengan aliran sofisme
    dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan
    kritik yang mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat,
    dan yang memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam
    Ming Chia juga terdapat khayalan tentang hal-hal
    seperti "eksistensi", "relativitas", "kausalitas", "ruang"
    dan "waktu".

    Fa Chia
    Fa Chia atau "sekolah hukum", cukup berbeda dari semua aliran klasik
    lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia,
    melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan
    bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik yang
    diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari
    suatu sistem undang-undang yang keras sekali.
    Tentang keenam sekolah klasik tersebut, kadang-kadang dikatakan bahwa
    mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Berturutturut:
    (1) kaum ilmuwan, (2) rahib-rahib, (3) okkultisme (dari ahliahli
    magi), (4) kasta ksatria, (5) para pendebat, dan (6) ahli-ahli
    politik.

    2. Jaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)
    Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat
    arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan "Nirwana" dari ajaran
    Buddha, yaitu "transendensi di seberang segala nama dan konsep", "di
    seberang adanya".

    3. Jaman Neo-Konfusianisme (1000-1900)
    Dari tahun 1000 M. Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran
    filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang
    bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini,
    kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan
    nilai-nilai tradisional di Cina, sema sekali dilalaikan, bahkan
    disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap
    sebagai sesuatu yang sama sekali asing.

    4. Jaman Modern (setelah 1900)
    Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad
    kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan
    pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran
    filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang
    lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu
    reaksi, kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak
    1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.
    Inilah sejarah perkembangan filsafat China, yang merupakan filsafat
    Timur. Yang termasuk kepada filsafat Barat misalnya filsafat Yunani,
    filsafat Helenisme, "filsafat Kristiani", filsafat Islam, filsafat
    jaman renaissance, jaman modern dan masa kini.
    Ini pasti terjemahan dari bahasa Inggris ya !
    Memang biasanya kata 家 [ jia ] dalam 法家 [ fajia ], 墨家 [ mojia] , ﹐名家 [ mingjia ] diterjemahkan sebagai "school". Nah kata "school" sendiri punya banyak arti jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebagai kata kerja (verb) "school" dapat berarti menahan, mengekang, atau melatih, sedangkan sebagai kata benda (noun) "school" dapat berarti;
    1. sekolah
    2. perguruan
    3. kawanan
    4. kumpulan
    5. kelompok
    6. fakultas
    7. institut
    8. haluan
    9. aliran
    10. kamar sekolah
    11. ruang sekolah
    12. pelajar
    13. kuliah
    14. pengalaman
    15. ajaran
    16. pendidikan

    Jadi penerjemahan kata 家 [ jia ], yang dalam literatur bahasa Inggris menjadi "school" tadi lebih tepat dengan "aliran", atau "ajaran" , bukannya "sekolah". Saya juga pernah membaca sebuah buku yang menerjemahkan "jia" sebagai "sekolah". Buat saya ini sedikit menganggu.

    Ok, cuma mau koreksi ini aja !

Similar Threads

  1. Menyanggah Buku Mitologi China & Kisah Alkitab
    By usnisha in forum Topik Umum
    Replies: 22
    Last Post: 13-06-10, 08:15
  2. Mateo Ricci dan Konfusianisme
    By usnisha in forum Tri Dharma
    Replies: 13
    Last Post: 22-03-10, 16:11
  3. Filsafat "Sudahlah"
    By Legend in forum True Buddha School
    Replies: 13
    Last Post: 02-03-09, 16:39
  4. Replies: 0
    Last Post: 06-07-07, 12:51
  5. Nirwana menurut filsafat Mahayana (Zen)
    By usnisha in forum Zen
    Replies: 0
    Last Post: 24-11-06, 23:20

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •