Filsafat china
Sumber : budaya tionghoa Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni, toleransi
-
13-02-09, 14:33 #1
Filsafat china
Sumber : budaya tionghoa
Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina, yakni harmoni,
toleransi dan perikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan,
harmoni, suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan
sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi
kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali
berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang
memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama.
Kemudian, perikemanusiaan. Pemikiran Cina lebih antroposentris
daripada filsafat India dan filsafat Barat. Manusia-lah yang selalu
merupakan pusat filsafat Cina.
Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewadewa
semua dikuasai oleh suatu nasib buta ("Moira"), dan ketika
kebudayaan India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan
dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah
diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasibnya dan
tujuannya. Filsafat Cina dibagi atas empat periode besar:
1. Jaman Klasik (600-200 S.M.)
Menurut tradisi, periode ini ditandai oleh seratus sekolah filsafat:
seratus aliran yang semuanya mempunyai ajaran yang berbeda. Namun,
kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan secara umum,
misalnya "tao" ("jalan"), "te" ("keutamaan" atau "seni hidup"), "yen"
("perikemanusiaan"), "i" ("keadilan"), "t'ien" ("surga") dan "yinyang"
(harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan
prinsip pasif-perempuan). Sekolah-sekolah terpenting dalam jaman
klasik adalah:
Konfusianisme
Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, "guru dari suku Kung")
hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao ("jalan" sebagai
prinsip utama dari kenyataan) adalah "jalan manusia". Artinya:
manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau
ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan.
Kebaikan hidup dapat dicapai melalui perikemanusiaan ("yen"), yang
merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama
walaupun tindakan mereka berbeda.
Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse ("guru tua") yang hidup sekitar 550
S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan "jalan
manusia" melainkan "jalan alam"-lah yang merupakan Tao. Tao menurut
Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang
bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih
metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak
metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa
tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India
(ajaran "neti", "na-itu": "tidak begitu") dan dalam filsafat Barat
(di mana kesadaran ini disebut "docta ignorantia", "ketidaktahuan
yang berilmu").
Yin-Yang
"Yin" dan "Yang" adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin
itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan
perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. Yang itu
prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki,
simbol untuk hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam
kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu
dan derajat Yang tertentu.
Moisme
Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse, antara 500-400 S.M. Mo Tse
mengajarkan bahwa yang terpenting adalah "cinta universal",
kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk
memusnahkan kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung
terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna
dianggap jahat. Bahwa perang itu jahat serta menghambat kemakmuran
umum tidak sukar untuk dimengerti. Tetapi Mo Tse juga melawan musik
sebagai sesuatu yang tidak berguna, maka jelek.
Ming Chia
Ming Chia atau "sekolah nama-nama", menyibukkan diri dengan analisis
istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming Chia, yang juga
disebut "sekolah dialektik", dapat dibandingkan dengan aliran sofisme
dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan
kritik yang mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat,
dan yang memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam
Ming Chia juga terdapat khayalan tentang hal-hal
seperti "eksistensi", "relativitas", "kausalitas", "ruang"
dan "waktu".
Fa Chia
Fa Chia atau "sekolah hukum", cukup berbeda dari semua aliran klasik
lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia,
melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan
bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik yang
diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari
suatu sistem undang-undang yang keras sekali.
Tentang keenam sekolah klasik tersebut, kadang-kadang dikatakan bahwa
mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Berturutturut:
(1) kaum ilmuwan, (2) rahib-rahib, (3) okkultisme (dari ahliahli
magi), (4) kasta ksatria, (5) para pendebat, dan (6) ahli-ahli
politik.
2. Jaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)
Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat
arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan "Nirwana" dari ajaran
Buddha, yaitu "transendensi di seberang segala nama dan konsep", "di
seberang adanya".
3. Jaman Neo-Konfusianisme (1000-1900)
Dari tahun 1000 M. Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran
filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang
bertentangan dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini,
kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan
nilai-nilai tradisional di Cina, sema sekali dilalaikan, bahkan
disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap
sebagai sesuatu yang sama sekali asing.
4. Jaman Modern (setelah 1900)
Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad
kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan
pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran
filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang
lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu
reaksi, kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak
1950, filsafat Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.
Inilah sejarah perkembangan filsafat China, yang merupakan filsafat
Timur. Yang termasuk kepada filsafat Barat misalnya filsafat Yunani,
filsafat Helenisme, "filsafat Kristiani", filsafat Islam, filsafat
jaman renaissance, jaman modern dan masa kini.May I be a protector for those who are without protectors, a guide for travelers, and a boat, a bridge, and a ship for those who wish to cross over!
May I be a lamp for those who seek light, a bed for those who seek rest, and may I be a servant for all beings who desire a servant. (Shantideva)
resep masakan vegetarian
Online Dharma
jangan di klik
-
19-03-09, 20:55 #2
Baru bergabung
- Join Date
- Mar 2009
- Posts
- 2
- Thanks
- 0
- Thanked 0 Times in 0 Posts
- Downloads
- 0
- Uploads
- 0
kalo kalian juga suka filsafat cina mungki boleh coba ke blog saya, yang isinya ujaran konfusius, lao zi dan zhuang zi di:
www.nagaterbang.wordpress.com
tapi kita tidak mendiskusikan tentang agama cuma filosofi saja karena menurut saya agama itu agak kompleks dan biarlah agama menjadi hubungan pribadi kita dengan tuhan.
thanks and i welcome u to my blog
-
03-05-09, 17:41 #3
Senior
- Join Date
- Sep 2008
- Posts
- 210
- Thanks
- 0
- Thanked 0 Times in 0 Posts
- Downloads
- 0
- Uploads
- 0
Ijinkan utk sedikit koreksi dan menambahkan.
Nabi Khongzi hidup pada 551-479 SM.
Tao dalam Daoism, adalah identik dengan yg Mutlak, Tuhan.
Sedang Tao dalam Khonghucu (biasa diterjemahkan Too), sebagai jalan suci, ada dua yaitu ren Tao dan Tian Tao, dimana seseorg dikatakan menempuh jalan suci (manusia, ren Tao) ketika berusaha senantiasa membina diri, memperbaiki diri, belajar hidup benar, dalam usaha menepati hakekat kemanusiaannya, sedang ketika seseorg mampu sejalan dengan watak sejatinya (pengertian umum, hati nurani)sehingga membawa kebaikan bukan hanya pada dirinya, manusia, lingkungan sekitarnya, yang pada akhirnya membawa kebaikan / kedamaian bagi dunia, maka dikatakan dia sedang menenmpuh jalan suci KeTuhanan, yang akhirnya berhenti pada puncak Baik / Kebaikan / Tian.
Ajaran Khonghucu banyak menyinggung etika karena dalam usaha menepati hakekat kemanusiaannya, ketika berinteraksi dengan manusia2 lain, maka perlu suatu perilaku etika yamg baik dan hal ini bukan berarti ajarannya melulu ethics saja, meski ini juga ditekankan.
-
05-02-10, 17:05 #4
Ini pasti terjemahan dari bahasa Inggris ya !
Memang biasanya kata 家 [ jia ] dalam 法家 [ fajia ], 墨家 [ mojia] , ﹐名家 [ mingjia ] diterjemahkan sebagai "school". Nah kata "school" sendiri punya banyak arti jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebagai kata kerja (verb) "school" dapat berarti menahan, mengekang, atau melatih, sedangkan sebagai kata benda (noun) "school" dapat berarti;
1. sekolah
2. perguruan
3. kawanan
4. kumpulan
5. kelompok
6. fakultas
7. institut
8. haluan
9. aliran
10. kamar sekolah
11. ruang sekolah
12. pelajar
13. kuliah
14. pengalaman
15. ajaran
16. pendidikan
Jadi penerjemahan kata 家 [ jia ], yang dalam literatur bahasa Inggris menjadi "school" tadi lebih tepat dengan "aliran", atau "ajaran" , bukannya "sekolah". Saya juga pernah membaca sebuah buku yang menerjemahkan "jia" sebagai "sekolah". Buat saya ini sedikit menganggu.
Ok, cuma mau koreksi ini aja !
Similar Threads
-
Menyanggah Buku Mitologi China & Kisah Alkitab
By usnisha in forum Topik UmumReplies: 22Last Post: 13-06-10, 08:15 -
Mateo Ricci dan Konfusianisme
By usnisha in forum Tri DharmaReplies: 13Last Post: 22-03-10, 16:11 -
Filsafat "Sudahlah"
By Legend in forum True Buddha SchoolReplies: 13Last Post: 02-03-09, 16:39 -
Zen Ancestor in China - 5 perguruan utama Zen di China
By dilbert in forum ZenReplies: 0Last Post: 06-07-07, 12:51 -
Nirwana menurut filsafat Mahayana (Zen)
By usnisha in forum ZenReplies: 0Last Post: 24-11-06, 23:20



LinkBack URL
About LinkBacks
Reply With Quote



Bookmarks